Kamis, 04 Juni 2009

Upacara

A. Pengertian Upacara dan Kebaktian1. Pengertian UpacaraUpacara adalah suatu rangkaian tindakan atau perbuatan yang terkait dengan aturan-aturan tertentu menurut adat atau agama. Dalam suatu upacara yang terkait dengan aturan adat dan agama, seperti upacara ritual (ritus), sembahyang, upacara kurban, dan lain-lain. Sedangkan di dalam agama Hindu yang terkait dengan upacara keagamaan, seperti persembahyangan, persembahan atau korban (Yahna), dan lainnya.Upacara juga merupakan suatu aspek terakhir dari unsur keimanan dalam sistem agama Hindu, karena itu ia merupakan kedudukan yang sangat penting pula yang harus diperhatikan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh setiap umat Hindu.Dalam kitab Reg Weda, yang dikemukakan ada 4 macam cara untuk mencapai tujuan atau pemujaan kepada Tuhan di dalam maksud upacara tersebut yaitu:

a. Dengan melalui cara mengucapkan mantra-mantra, cara ini dikenal pula dengan istilah bhakti-marga.

b. Dengan melalui cara menyanyikan lagu-lagu pujian atau Hymn misalnya melagukan mantera dan storta, cara ini dikenal dengan istilah wibhukti-marga.

c. Dengan melalui cara keilmuan, misalnya mengamati dan mengamalkannya, cara ini dikenal dengan Jnana-Marga.d. Dengan melalui cara melakukan yadnya yaitu yang disebut ajaran karma-marga.

2. Pengertian kebaktianBiasanya pengertian kebaktian ini lebih cenderung pada agama Kristen, tetapi disini pengertian kebaktian itu berdasarkan agama Hindu.Kebaktiana berasalh dari kata bakti yaitu patuh, tunduk, dan hormat. Jadi bisa dikatakan bahwa kebaktianadalah merupakansesuatu hal yang dilakukan oelh orang-orang yang beragama Hindu untuk beribadah kepadaroh-roh nenek moyang yang suci. Maksudnya

dalamarti ibadah tersebut adalah merupakan patuh, tunduk, dan hormat kepada roh-roh nenek moyang yang suci, dari cara pelaksanaannya yang mereka lakukan adalah dengan cara-cara yang sacral seperti ritual, upacara kurban, sembahyang, doa dan lain-lain, serta mereka menganggap bahwa ibadah itu merupakan hal yang skral pula

B. Upacara-upacara dan Kebaktian dalam Agama Hindu1. Upacara dalam agama HinduYang termasuk upacara di dalam agama hindu ini adalah sebagai berikut:a. Ritual (ritus)Dalam upacara keagamaan, ritual ini merupakan kepercayaan kepada kesakralan sesuatu menuntut ia diperlakukan secara khusus yang tidak dpat dipahami secara ekonomi dan rasional, seperti cara perlakuan terhadap sesuatu yang disakralkan, yaitu melakukan tawaf di sekeliling ka’bah, pada umumnya tidak dapat dipahami keuntungan dan alasan rasional, upacara, persembahan, sesajen, dan lain-lain.Sebagai kata sifat, ritual adalah segala yang dihubungkan atau disangkutkan, sedangkan sebagai kata benda adalah segala yang bersifat upacara keagamaan, seperti upacara gereja katolik.Dalam agama upacara ritual ini biasa dikenal dengan ibadat, kebaktian, berdoa, atau sembahyang.Sedangkan di dalam agama Hindu, ada dua macam ritual Hindu yang lazim di kalangan orang Hindu masa kini, yaitu sebagai ritual keagamaan vedis dan agamis. Ritual-ritual vedis meliputi kurban-kurba kepada para dewa, suatu upacara kurban berupa melakukan persembahan seperti sesajian makanan-makanan dan dalam kesempatan tertentu berupa binatang. Biasanya sesajin ini ditempatkn pada baki suci di lemparkan ke dalam api suci yang di nyalakan di atas altar pengorbanan.Suatu perbedaan antara upacara-upacara keagaman umum yang besar dengan upacara domestik. Upacara-upacara keagaman umum dilakukan dengan rumusan samhita dan memerlukan perapian. Sedangkan upacara keagamaan domestik dilakukan di depan tungku keluarga oleh kepala keluarga yang menggunakan rumusan dari kumpulan doa-doa khusus.Ritual vedis bertujuan untuk mengangkat, memperkuat prosedur-prosedur sekular yang berkaitan dan bertujuan untuk menetapkan suatu hubungan antara dunia ilahi dengan dunia manusia.Ritual agamis memusatkan perhatian pada penyembahan antara dunia ilahi dengan dunia manusia.Ritual agamis memusatkan perhatian pada penyembahan pujaan-pujaan pelaksanaan puasa serta pesta-pesta yang termasuk bagian agama Hindu yang merakyat. Barang pujaan, yang hanya merupakan tanda untuk makhluk tertinggi melambangkan yang ilahi.Bentuk khas dari praktik keagamaan Hindu adalah cara penyembahan yang disebut puja. Dalam suatu rangkaian ritual, modelnya wang-wangian. Makanan dan minuman di persembahkan kepadanya. Patung tersebut diarak keluar dari halaman kuil.Dalam agama vedis, Agni adalah dewa yang menjadi tempat kesatuan antara dunia ilahi dan dunia manusiawi. Agni sebagai api melahap pengurbanan dan sebagai imam mempersembahkannya kepada dewa-dewa yang ada di atas. Ia adalah peneggah antara dewa dan manusiab.

Upacara kurba
Ritus-ritus inisiasi dipraktekkan untuk menysucikan situasi-situasi kritis dan marginal dalam hidup indivdu dan kolektif. Persiapan-persiapan sebelum kelairan, upacara-upapcara sekitar kelahiran, inisiasi memberikan nama waktu pubertas, perawinan, sakit dan upacara-upacara pemakaman diselenggarakan di seluruh dunia untuk mencegah bahaya-bahaya yang tersembunyi.Upacara kurban mempunyai tempat utama karena dengan manusia religus mengadakan pesembahan diri kepada dewa lewat suatu pemberian, dan hubungan serta komunikasi yang erat antara dia dengan dewa ditetapkan lewat keikutsertaan dan ambil bagian dalam persembahan yang disucikan, sebagai unsur dari fenomena sebagai dampak dalam agama-agama di dunia.Upacara kurban dalam Hindu, yang berupa persembahan hadiah dengan maksud untuk memperoleh keuntungan-keuntungan dari Tuhan, seperti kemakmuran, kesehatan, panjang umur, ternak, keturunan, dan lain-lain. Upacara kurban bukan hanya suatu pesembahan, tetapi juga suatu penyucian, suatu perpindahan dari yang profane kepada yang kudus, yang mengubah bentuk kurban yang dipersembahkan maupun orang yang mempersembahkannya. Melalui kurban itulah komunikasi antara yang kudus dan yang profane di bangun, yang juga merupakan suatu tindakan penghormatan kepada dewa-dewa dengan peribadahan.Upacara-upacara kurban dibedakan menjadi upacara kurban domestik dan umum sesuai dengan hadir tidaknya imam-imam dan menurut jumlah api yang digunakan upaara-upaara kurban domestik dijalankan dengan mnggungakan api, melemparkan butiran-butiran beras yang direndam dengan minyak mentega dan mengucapkan mantra-mantra. Sedangkan kepala rumah tangga melakukannya di atas perapiannya sendiri, persembahan yang dilakukan merupakan hasil-hasil bumi yang mereka tanam.Upacara-upacara kurban umum dilakukan oleh imam-imam di altar, dijalankan dengan mnggunakan api, melemaparkan butiran-butiran beras Yang direndam dengan minyak mentega dan mengucapkan mantra-mantra. Tetapi upaara-upacara ini tidak menggunakan persembahan dari hasil-hasil bumi, tetapi dengan binatang seperti kurban kuda, upacara ini merupakan pesta kerajaan dan rakyatnya.Dari aspek lain, upaara kurban adalah suatu penyatuan mistik di dalam mana pengurban melahirkan masa depannya sendiri di altar, dan melalui uptttacara kurbanlah manusia menebus keberadaanya dari para dewa.

C. SembahyangPada tiap hari raya piodalan, tempat-tempat suci dan pada hari-hari tertentu, orang-orang mengadakn upacara persembahyangan yang disertai pula dengan upacara banten. Persembahyangan ini ada yang dilakukan sendiri-sendiri dan ada pula secara besama-sama.Rangkaian persembahyangan baik yang dilakukan secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama yang merupakan hasil keputusan mahasabha perisada hidup Dharma Indonesia ke VI di Jakarta tahun 1991, sebagai berikut:1. Persiapan sembahyangYang meliputi persiapan secara lahir dan batin. Secara lahir persiapan itu dapat meliputi kebersihan badan, sikap duduk yang baik, pengaturan nafas, sikap tangan dan lain-lain. Yang merupakan sarana penunjang persiapan ini yaitu pakaian yang bersih yang tidak mengganggu ketenangan pikiran, adanya bunga dan dupa sedangkan persiapan atin adalah ketenangan dan kesucian pikiran.

2. Puja TrisadhyaSetelah sikap badan itu baik, maka dilanjutkan dengan melaksanakan puja Trisdhya, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Asana, merupakan sikap duduk bersila (bagi pria) dan bersimpuh (bagi wanita) serta memusatkan pikiran kehadapan HyangWidhi, dengan mantra-mantra.
b. Pranayama, mengatur jalannya nafas, gunanya untuk menenangkan dan mengheningkan pikiran agar dapat menyatu dengan Hyang Widhi yang di sertai mantra-mantra
c. Karasoddhana (pembersihan tangan)
d. Mantra Trisandhya

3. Urutan-urutan sembahUrutan-urutan sembah, baik pada waktu sembahyang sendiri maupun bersama-sama yang dipimpin oleh seorang pemangku. Namun terlebih dahulu yang perlu diperhatikan adalah sikap tangan yang baik pada waktu sembahyang ialah kedua telapak tangan dikatupkan dan diletakkan di depan ubun-ubun adapun urutan-urutan sembah tersebut sebagai berikut:

a. Sembahyang puyung
b. Sembah kehadapan Hyang Widhi dalam manifestasnya sebagai sanghyang Aditya
c. Sembah kehadapan HyangWidhi sebagai Ista Dewata pada hari dan tempat persembayangan. Ista Dewata artinya Dewata (pewujudan Tuhan) yang dipuja pada kwatu persembahyangan saat itu.d. Sembah kepada Hyang Widhi seagai pemberi Anugrerahe. Sembah Puyung, Sebagai Penghormatan pada dewa yang tak terpikirkan yang Maha Tinggi dan Ghaib.

Setelah persembahyangan selesai, maka dilanjutkan dengan mohon tirtha dan bija,. Tirtha adalah air suci, yaitu air yang telah disucikan dengan suatu cara tertentu dan disebut dengan Tirtha Wangsuh pada Hyang Widhi. Tirtha ini dipercikkan di kepala, diminum dan dipakai mencuci muka yang bertujuan agar pikiran dan hati kita menjadi bersih dan suci, yaitu bebas dari kotoran, noda dan dosa, kecemaran dan sejenisnya.Sedangkan wija adalah biji kertas yang di cuci dengan air cendana. Wiji ini sebagai lambang kumara yaitu putra atau bija Bharata (Dewa) Siwa. Kumara adalah benih ke-siwa-an yang bersemayam di dalam diri setiap orang.

4. DoaDalam agama Hindu, doa yang disebut juga mantra, Stawa atau Brahma merupakan bagian yang penting dalam menumbuhkan dan memantapkan keyakinan kita terhadap adanya Hyang Widhi. Doa-doa ini selalu disampikan pada setiap kegiatan atau kejadian untk mencapai tujuan tertentu sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.Doa merupakan salah satu unsur keyakinan yang mempunyai kedudukan yang penting dan memiliki kegunaan serta manfat yang besar dalam pembinaan etika, moral, dan spiritual, oleh karena itu doa harus diyakini dan diucapkan atau disampaikan dengan kesucian serta ketulusan hati kepada HyangWidhi, sebagai puja dan puji guna tercapainya satu tujuan yang diharapkan di dalam hidup iniFungsi dan tujuan doa dalam kehidupan ini, yaitu sebagai berikut:


a. Sebagai pernyataan rasa syukur atas anugerah Hyang Widhi yang telah menciptakan dunia dengan segala isinya, termasuk segala sesuatu yang diperlukan bagi kehidupan manusia dan semua makhluk.
b. Sebagai Sadhana untuk mohon perlindungan dan keselamatan serta agar selalu di jauhkan dari segala caobaan, rintangan, godaan hidup yang ingin mengganggu kehidupan kita.
c. Dengan doa, kita memohon anugerah kehadapan Hyang Widhi berupa kesucian lahir dan batin, kesempurnaan moral dan spiritual serta kebahagiaan hidup di dunian dan di akhirat.Cara dan sikap berdoa, ada beberapa cara dan pada dasarnya dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu:

a. Doa yang dilakukan dengan pengucapan kata-kata suci atau mantram
b. Doa yang dilakukan dengan bahasa simbul dalam bentuk upacara
c. Doa yang dilakukan dengan menggunakan upacara dan mantram sekaligusDoa-doa ini dlakukan dengan mengucapkan mantram sesuai dengan tujuan masing-masing, tanpa menggunakan sarana atau bahasa simbul


Latar belakang dan pengertian.
Melaksanakan upacara yadnya termasuk di dalamnya upacara Pitra Yadnya adalah merupakan kewajiban bagi setiap umat Hindu.
Upacara Pitra Yadnya terdiri dari:

Upacara Sawa Wedana bermakna mengembalikan unsur- unsur Panca Maha Bhuta (Sthula sarira) dan menyucikanatma orang yang telah meninggal) dunia.
Upacara Atma Wedana
bermakna menyucikan suksma sarira dan atma sebagai kelanjutan dari upacara Sawa Wedana. Upacara Ngalinggihang Dewa Pitara (Dewa Hyang)
dapat dilaksanakan berupa menstanakan kembali atma (roh suci) yang diyakini telah mencapai "Atmasiddha dewata".di Sanggah Kamulan (Pemerajan) atau Pura Kawitan (Pura Leluhur).

Tujuan dan fungsi upacara.
Upacara Ngalinggihang Dewa Pitara (Menstanakan Dewa Hyang/ Atma leluhur diyakini telah suci) bertujuan untuk menjalin bhakti keturunan atau santana dengan para leluhur di samping juga melalui para leluhur umat manusia dapat lebih mendekatkan dirinya kepada Sang Hyang Widhi.Adapun fungsi upacara pemujaan kepada para leluhur ini adalah sebagai sarana supaya para leluhur dapat memberikan perlindungan dan pengayoman kepada keturunannya, di samping untuk dapat menghubungkan umat manusia kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

Tata Pelaksanaan.
Rangkaian upacara
Setelah melaksanakan upacara Atma Wedana, dilanjutkan pula dengan upacara Nyegara Gunung/ Nyegara Giri atau Majar- ajar ke laut dan ke gunung.
Upacara selanjutnya adalah menstanakan atau Ngalinggihang Dewa Pitara atau Dewa Hyang dengan rangkaian sebagai berikut
Nuntun dari pura Dalem (Kahyangan Tiga, Segara atau Pura Dalem Puri Besakih.
Dilanjutkan dengan upacara menstanakan Ngalinggihang di Sanggah Kamulan (Pamerajan) atau Pura Kawitan (leluhur).
Penjelasan :
Bagi yang nuntun di pura Dalem (Kahyangan Tiga)Pertama melaksanakan upacara mempersembahkan sesajen (ayaban) ke hadapan Ida Bhatara di pura Dalem (Siwa). Selanjutnya pimpinan upacara (Pinandita atau. Pandita) memohon supaya leluhur keluarga yang bersangkutan (yang memohon) diperkenankan disthanakan pada Sanggah Kamulan (Pamerajan), Pura Kawitan atau pura leluhur.Sarana yang dipergunakan adalah "Daksina palinggih" yang kemudian dilanjutkan dengan upacara Pradaksina mengelilingi palinggih Pura Dalem tiga kali. Sebelum upacara ini dilaksanakan terlebih dahulu dipersembahkan Segehan Agung dengan "penyambleh ayam Hitam". Dewa Pitara (Dewa Hyang kemudian diiring menuju Sanggah Kamulan (Pemerajan), Pura Kawitan atau Pura Leluhur untuk disthanakan.
Bagi yang memilih nuntun dari segara rangkaian upacaranya hampir sama dengan menuntun di pura Dalem (Kahyangan Tiga) dengan tambahan mapekelem (persembahan sesajen yang dilabuh ke laut) berupa sajen suci hitam, itik hitam dan salaran.
Bagi yang memilih menuntun di Pura Dalem Puri upacaranya lebih besar dan upacara (l) dan (2) di atas. dengan pertama melaksanakan upacara di Pura Segara Gua Lawah dan dilanjutkan. dengan upacara ke Pura Dalem Puri. Sebelum menuju PuraDalem Puri terlebih dahulu mempersembahkan sesajen "Piuning" ke Pura Manik Mas, Bangun Sakti, Ulun Kulkul, Pura Gua dan Pura Banua.Perjalanan selanjutnya dan Pura Manik Mas menuju pura Dalem Puri terlebih dahulu menyeberangi Titi Gonggang dan Batu Macepak yang terletak pada jurang sebelah barat Pura Manik Mas.Pada kedua tempat ini (Titi Gonggang dan Batu Macepak) mempersembahkan sesajen Pejati atau Penebusan. Setelah selesai memohon Dewa Pitara di Dalem Puri dilanjutkan dengan mempersembahkan Pejati di Pura Basukihan, Padharman (bila yang bersangkutan memiliki Padharman) dan diakhiri dengan mempersembahkan Pejati di Pura Penataran Agung.
Upakara (Sesajen).Adapun upakara atau sesajen dan sarana yang merupakan inti adalah : Banten saji Dewa Putih Kuning, Jerimpen Agung, Sesayut, Pangulapan, Pengambyan, Benang Tri Datu (tiga .warna : merah, putih, hitam) satu tukel (satu gulung),uang kepeng 225 biji yang diikatkan pada benangtridatu. Sebuah tutup (tombak) yang diikat dengan benang tridatu dialasi l buah kelapa yang dikupas serabutnya, diisi beras, pada ujung tombak dilengkapi dengan "Sat- sat" dari janur di samping sebuah daksina palinggih dan kain sebagai Tigasana.Penjelasan:Jumlah dan sarana upakara (sesajen) disesuaikan dengan kemampuan (desa, kala, patra) serta petunjuk Pinandita atau Pandita.
Puja Mantra :Puja Mantra disesuaikan dengan manifestasi Sang Hyang Widhi yang dipuja :
Durgastawa.
Sagarastawa.
Pertiwistawa.
Gurustawa.
Saraswatistawa.
Prajapatistawa.
Dan lain- lain sesuai dengan lokasi pura dan sarana upakaranya.
Penjelasan :Bila yang memimpin upacara seorang Pinandita (Pamangku) hendaknya mempergunakan "seha" sesuai dengan kewenangannya.
Sumber ajaran.Pemujaan Dewa Pitara atau Pitara yang telah suci adalah merupakan salah satu pokok ajaran agama Hindu yang mengajarkan penyembahan kepada leluhur yang telah suci atau Dewa Pitara di samping menyembah Ida Sang Hyang Widhi dan Dewa- Dewa sebagai manifestasi Nya. Pemujaan leluhur yang telah suci itu diajarkan dalam kitab suci agama Hindu dan sastra- sastranya yang dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan keadaan umat di mana agama Hindu itu berkembang. Sumber- sumber ajaran tersebut antara lain sebagai berikut:
Weda.
Itihasa dan Purana.
Negara Kertagama.
Wrhaspatitattwa.
Siwagama
Siwatattwapurana.
Purwabhumikamulan.
Puja Mamukur.
Yama Purwanatattwa.
Pitutur Leburgangsa. Sanghyang Leburgangsa.

Alat- alat Upacara
Penjor
Pengawin-awinPengawin untuk upacara keagamaan tangkainya menurut ukuran asta kosala, bila dipergunakan harus diberi sasap, serta diprayascita. Pengawin jenis senjata Nawasanga, payung pagut, lelontek, umbul- umbul dengan lukisan naga, kober dengan lukisan Hanoman, garuda dan Gana dan lukisan- lukisan yang mengandung simbul keagamaan serta segala jenis umbul- umbul yang memakai uncal hanya boleh dipergunakan untuk keperluan upacara keagamaan.
Canang Sari:Canang Sari yang lengkap hanya dapat dipergunakan untuk kepentingan upacara keagamaan (yang dengan porosan, tebu dan lain- lainnya).
Urassari:Urassari yakni hiasan bunga- bunga saja yang terdapat pada bagian atas dari canang sari dapat dipergunakan untuk keperluan lain, dengan sebutan puspawarsa. Puspa sama dengan bunga dan warsa sama dengan hujan, Puspa warsa berarti hujan bunga.
Gebogan/ Pajegan:Bila dipergunakan untuk lain- lain maksud di luar upacara keagamaan hendaknya tidak memakai sampian lebih- lebih porosan.
Lamak dan sebagainya:Lamak untuk upacara keagamaan, adalah lamak yang memakai simbul- simbul keagamaan yang lengkap misalnya, simbul gunungan, kekayonan, cili- cilian, bulan, bintang, matahari dan sebagainya, dan pemasangannya dilengkapi dengan gantungan- gantungan dan pelawa.Untuk keperluan lain tidak dipergunakan simbul- simbul yang lengkap, serta pemasangannya tidak disertai gantungan- gantungan dan pelawa.
Istilah:Untuk menghindari kesalahan pengertian, segala bentuk elemen hiasan yang menyerupai alat perlengkapan keagamaan yang sebenarnya, diberi nama dengan istilah- istilah lain, misalnya:
Yang menyerupai penjor disebut pepenjoran.
Yang menyerupai lamak disebut lelamakan.
Yang menyerupai gebogan disebut gegebogan, demikian dan seterusnya.

Contoh Upacara

Piodalan
Upakara/ upacara piodalan berwujud upakara/ upacara untuk ngerekayang Ida Sang Hyang Widhi Waça dengan segala manifestasinya dengan itu umat mewujudkan rasa baktinya.
Kerangka upakara/ upacara piodalan melambangkan:
Utama Angga (hulu).
Madhyama Angga (angga/ sarira).
Nistama Angga (suku/ delamakan).
Pelaksanaan upakara/ upacara piodalan nista, madya, utama, untuk pemerajan dan kahyangan tiga.
Tata urutan upacara piodalan:
Nuwur/ nurunang (Utpati).
Ngadegang/ nyejer (Sthiti).
Ngeluwurang/ nyimpen (Pralina).
Susunan/ tingkat upakara/ upacara sesuai dengan prasaran (tanpa perubahan)

Setiap yadnya (upacara agama) hendaknya dilaksanakan dengan dasar hati yang suci, tulus ikhlas dradha matwang, tiaga dana, berlandaskan Tri Kaya Parisudha.

Setiap upakara/ upacara keagamaan adalah sakral, tidak layak jika dipergunakan untuk kepentingan lain.

Pengertian Panca Wali Krama.Panca Wali Krama adalah upacara buta yadnya dengan tujuan untuk pemahayu jagat.
Jenis Panca Wali KramaPanca Wali Krama sesuai dengan saat dan tempat dilakukan ada 2 (dua) jenis, yaitu :
Panca Wali Krama padgati kala (sewaktu- waktu), yaitu upacara Bhuta Yadnya sewaktu- waktu demi penyucian akibat durmengala agung Kahyangan/ Jagat.
Panca Wali Krama berjangka, yakni upacara bhuta Yadnya setiap sepuluh tahun di Besakih, diselenggarakan untuk pergantian tenggek.
Penyelenggara Karya Panca Wali Krama di Besakih. Oleh karena Panca Wali Krama di Besakih adalah Karya jagat, maka Karya diselenggarakan oleh Sang Aji Bali (lontar Raja Purana Besakih).Pelaksanaannya diselenggarakan oleh Umat Hindu dengan bantuan Pemerintah Daerah

UPACARA UPASAKSI

Maha Esa yang bertujuan untuk menyatakan kebenaran perbuatan seseorang baik yang telah lalu maupun yang akan datang.
Bentuk- bentuk Upacara Upasaksi.
Upasaksi sumpah jabatan, adalah upasaksi dalam hubungan sumpah jabatan yang akan dipangku oleh anggota ABRI maupun Sipil.
Upasaksi/ Sumpah di Pengadilan adalah sumpah yang berhubungan dengan perkara di pengadilan.
Upasaksi/ Sumpah dalam bentuk cer (berhubungan. dengan penguatan pengakuan), adalah sumpah yang mempergunakan sarana mantram Aricandani.
Pelaksanaan Upasaksi.
Upasaksi sumpah jabatan:
Pengambilan sumpah adalah pejabat yang ditunjuk.
Yang akan disumpah berpakaian sopan sesuai dengan pakaian dinas.
Sikap yang akan disumpah berdiri tegak :
Sikap tangan "DEWA PRESTISTHA" untuk Sipil.
Anggota ABRI dalam sikap sempurna.
Saksi pendamping adalah Rohaniawan atau pejabat yang ditunjuk dengan sikap tangan "DEWA PRESTISTHA" sebaiknya berdiri di sebelah kanan dari yang disumpah.
Sarana untuk Sipil sebaiknya memegang dupa yang menyala dengan sikap tangan "'DEWA PRESTISTHA sedapat mungkin dilengkapi dengan sarana upacara lainnya seperti air suci canang sari, dan daksina.Sarana untuk anggota ABRI sebaiknya sama dengan sipil kecuali upacara penyumpahan di lapangan.
Sarana mantram yang dipergunakan oleh yang mengambil sumpah adalah : Om atah Parama Wisesa, saya bersumpah sesuai dengan sumpah yang telah ditentukan.
Upasaksi/ Sumpah di Pengadilan.
Pengambilan sumpah adalah pejabat yang ditunjuk.
Yang akan disumpah berpakaian sopan
Sikap yang akan disumpah berdiri tegak:
Sikap tangan "DEWA PRESTISTHA" untuk sipil dengan memegang dupa yang menyala.
Anggota ABRI dengan sikap sempurna.
Saksi pendamping untuk Mahkamah Militer berdiri tegak dalam sikap tangan "DEWA
PRESTISTHA".
Upasaksi/ Sumpah dalam bentuk cer (berhubungan dengan penguatan pengakuan):
Pengambil sumpah rohaniawan yang ditunjuk.
Tempat pelaksanaan yaitu di tempat suci.
Yang disumpah berpakaian putih atau pakaian adat setempat.
Sarana upacara sesuai dengan kondisi setempat.


Batas- batas dan Wewenang Muput/ Upacara/ Upakara yadnya

Kewenangan Para Sulinggih dari Pinandita di dalam struktur kemasyarakatan Hindu adalah merupakan sarana agama yang amat penting untuk terlaksananya upacara/ upakara yadnyasebagai berikut:
Sulinggih:Berdasarkan Keputusan Maha Sabha Parisada Hindu Dharma Ke II Tanggal- 2 s/ d 5 Desember 1968, yang dimaksud dengan Sulinggih, ialah mereka yang telah· melaksanakan upacara/ upakara Diksa ditapak oleh Nabenya dengan Bhiseka, Pedanda, Bhujangga, Resi Bhagawan, Empu dan DukuhKewenangan Sulinggih:Para Sulinggih berwenang menyelesaikan segala upacara/ upakara Panca Yadnya umat Hindu (Loka Phala Sraya)
Pinandita:Yang dimaksud dengan Pinandita, ialah mereka yang telah melaksanakan upacara/ Upakara yadnya Pawintenan sampai dengan "Adiksa Widhi" dengan tidak "ditapak" dan "amari aran", yaitu : Pamangku, Mangku Dalang, Wasi, Pengemban, Mangku Balian/ Dukun dan DharmaAcarya.Kewenangan Pinandita.
Menyelesaikan upacara puja wali/ piodalan sampai tingkat piodalan pada pura yang bersangkutan
Apabila Pinandita menyelesaikan upacara di luar Pura yang diemongnya atau upacara/ Upakara yadnya itu diselenggarakan di luar Pura atau jenis upacara/ upakara yadnya tersebut bersifat rutin seperti puja wali/ odalan, manusa yadnya, bhuta yadnya, yang seharusnya dipuput dengan tirtha Sulinggih, maka Pinandita boleh menyelesaikan dengan nganteb serta menggunakan tirtha Sulinggih selengkapnya.
Pinandita berwenang untuk menyelesaikan upacara rutin di dalam pura dengan nganteb/ mesehe serta memohon tirtha ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi dan Bhatara Bhatari yang melinggih atau yang disthanakan di Pura tersebut termasuk upacara yadnya membayar kaul dan lain- lain.
Dalam penyelesaian upacara Bhuta Yadnya/ Caru Pinandita diberi wewenang muput upacara Bhuta Yadnya tersebut maksimum sampai dengan tingkat "Panca Sata" dengan mempergunakan tirtha Sulinggih.
Dalam hubungan muput upacara Manusa Yadnya, Pinandita .diberi wewenang dari upacara bayi lahir, sampai dengan otonan biasa dengan menggunakan tirtha Sulinggih.
Dalam hubungan dengan muput upacara pitra yadnya Pinandita diberi wewenang sampai pada mendem sawa sesuai dengan Catur Dresta.
Catatan:
Agar para Sulinggih dan Pinandita di dalam memimpin pelaksanaan upacara yadnya menyesuaikan dengan ucap sastra (Pustaka lontar) yang mengaturnya.
Agar para Sulinggih berkenan membimbing untuk meningkatkan kesucian dan kemampuan para Pinandita.
Agar diadakan Pahoman (Pasraman) para Sulinggih dan para Pinandita di dalam menyesuaikan memantapkan dan meningkatkan ajaran agama dihubungkan dengan perkembangan kemajuan zaman.
Agar Para Sulinggih di samping untuk memimpin penyelesaian upakara yadnya, juga patut memberikan Upadeça untuk memantapkan pengertian dan pengamalan ajaran agama Hindu

KesimpulanUpacara adalah suatu rangkaian tindakan atau perbuatan yang terkait dengan aturan-aturan adat atau agama. Dan juga merupakan aspek terakhir dari unsur keimanan dalam agama Hindu.Cara untuk mencapai tujuan atau pemujaan terhadap Tuhan dalam agama hindu di dalam kitab Reg Weda, ada 4 macam, yaitu:1. Melalui cara mengucapkan mantra-mantra2. Melalui cara mengyanyikan lagu-lagi3. Melaluui cara keilmuan4. Melalui cara Yadnya5. Upacara-upacaranya yaitu:1. Ritual (ritus)2. Upacara kurban3. Sembahyang4. DoaSedangkan kebaktian adalah tunduk, patuh dan hormat kepada roh-roh nenek moyang yang suci, dan mereka anggap seperti ibadah dan cara pelaksaannya itu merupakan cara-cara yang mereka anggap sakral, seperti ritual, upacara kurban, sembahyang, doa dan lain-lain. Di dalam kepercayaan agama Hindu.

Diringkas Oleh:

Nama : I Putu Darma Prayoga
Nim : 080020058
Kelas : A082
Dari : Yayasan Bali Galang 2000-2003

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar